https://jurnal.uglaceh.ac.id/index.php/jpal/issue/feedJurnal Pengabdian Alas Leuser2026-10-28T07:00:20+00:00Yunita Althin Natanael, S.E., M.Akjurnalugl@gmail.comOpen Journal Systems<p dir="auto" data-pm-slice="1 1 []"><strong>JPAL: Jurnal Pengabdian Alas Leuser</strong> is a multidisciplinary journal publishing community service initiatives in science, technology, innovation, and empowerment, promoting sustainable development and meaningful societal impact.</p> <table> <thead> <tr> <th> </th> <th> </th> </tr> </thead> <tbody> <tr> <td><strong>Journal Title</strong></td> <td>Jurnal Pengabdian Alas Leuser</td> </tr> <tr> <td><strong>ISSN</strong></td> <td>0000-0000</td> </tr> <tr> <td><strong>DOI</strong></td> <td>by Crossref</td> </tr> <tr> <td><strong>Editor in Chief</strong></td> <td>Yunita Althin Natanael, S.E., M.Ak</td> </tr> <tr> <td><strong>Managing Editor</strong></td> <td>Muhammad Husaini Assauwab, M.Agr</td> </tr> <tr> <td><strong>Publisher</strong></td> <td>LPPM Universitas Gunung Leuser Aceh</td> </tr> <tr> <td><strong>Frequency</strong></td> <td>Two issues per year (February and August)</td> </tr> <tr> <td><strong>Peer Review</strong></td> <td>Jurnal Pengabdian Alas Leuser has gone through a peer review process, reviewed in a closed manner (blind review) by reviewers appointed by the Editorial Board according to their field of expertise.</td> </tr> <tr> <td><strong>Office Address</strong></td> <td>Jalan Iskandar Muda No. 1, Kotacane, Kecamatan Bambel, Kabupaten Aceh Tenggara, Provinsi Aceh (Kode Pos 24664)</td> </tr> <tr> <td><strong>Email</strong></td> <td>jurnalugl@gmail.com</td> </tr> </tbody> </table>https://jurnal.uglaceh.ac.id/index.php/jpal/article/view/10EVALUASI KEDISIPLINAN GURU DI SEKOLAH MENENGAH PERTAMA KECAMATAN KETAMBE KABUPATEN ACEH TENGGARA TAHUN 20262026-10-28T07:00:20+00:00Makmur Hartonomakmurmakmurhartono@gmail.com<p>Tujuan utama dari pengabdian masyarakat ini adalah untuk mendeskripsikan tingkat kedisiplinan guru di Sekolah Menengah Pertama Kecamatan Ketambe dan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi kedisiplinan tersebut. Pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk memberikan gambaran yang komprehensif tentang bagaimana guru menjalankan tanggung jawab mereka dalam konteks pendidikan, serta untuk mengeksplorasi faktor-faktor internal dan eksternal yang dapat mempengaruhi kedisiplinan mereka, seperti motivasi pribadi dan dukungan dari manajemen sekolah.Metode pengabdian masyarakat yang digunakan adalah pendekatan kualitatif, dengan pengumpulan data melalui wawancara dan observasi. Pengabdian masyarakat ini menemukan bahwa terdapat beberapa indikator kedisiplinan, termasuk patuh terhadap peraturan, kemampuan mengendalikan diri, dan sikap kreatif. Selain itu, faktor-faktor yang mempengaruhi kedisiplinan guru meliputi motivasi pribadi, lingkungan kerja, dan dukungan dari pihak manajemen sekolah.Dalam pembahasan, penulis menganalisis hasil temuan dengan merujuk pada teori-teori disiplin kerja dalam pendidikan. Penulis menekankan bahwa kedisiplinan guru sangat penting untuk menciptakan suasana belajar yang kondusif dan untuk mencapai tujuan pendidikan yang lebih baik. Rekomendasi diberikan agar pihak sekolah dan dinas pendidikan memperhatikan masalah kedisiplinan ini sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas pendidikan di daerah tersebut. Pengabdian masyarakat ini diharapkan dapat menjadi referensi bagi pengambil kebijakan dalam merumuskan strategi peningkatan disiplin kerja guru di sekolah-sekolah Menengah pertama.</p>2026-11-04T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Jurnal Pengabdian Leuserhttps://jurnal.uglaceh.ac.id/index.php/jpal/article/view/9MITIGASI GEMPA DAN TSUNAMI DI WILAYAH ACEH TENGGARA2026-10-28T06:55:13+00:00Taufiktaifik@gmail.comJetno Harjataufik@gmail.comKhairul Anwartaufik@gmail.comDedi Aswanditaufik@gmail.comBustami Arifintaufik@gmail.comAnand Riskitaufik@gmail.com<p>Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki tingkat kerawanan tinggi terhadap bencana gempa bumi karena terletak pada kawasan pertemuan beberapa lempeng tektonik. Gempa bumi merupakan peristiwa bergetarnya permukaan bumi akibat pelepasan energi secara tiba-tiba dari dalam bumi, yang umumnya disebabkan oleh pergeseran batuan di sepanjang bidang patahan (<em>fault</em>) atau aktivitas tektonik lainnya. Pelepasan energi tersebut menghasilkan gelombang seismik yang merambat melalui bumi dan menimbulkan guncangan di permukaan. Selain gempa bumi tektonik, aktivitas vulkanik dan aktivitas manusia, seperti peledakan serta kegiatan industri tertentu, juga dapat menghasilkan getaran yang terdeteksi secara seismik. Getaran beramplitudo sangat kecil yang berlangsung secara alami maupun akibat aktivitas manusia dapat menjadi bagian dari fenomena mikroseismik, bergantung pada sumber dan karakteristik getarannya. Proses terjadinya gempa bumi dapat dianalogikan dengan batang yang mengalami pembengkokan akibat tegangan hingga mencapai batas kekuatannya, kemudian mengalami pelepasan energi secara tiba-tiba ketika patah. Analogi tersebut menggambarkan bagaimana tegangan yang terakumulasi pada batuan dapat dilepaskan dan menghasilkan gelombang seismik. Pemahaman mengenai mekanisme terjadinya gempa bumi penting untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang karakteristik bahaya gempa serta mendukung upaya mitigasi dan pengurangan risiko bencana di Indonesia.</p>2026-11-04T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Jurnal Pengabdian Leuserhttps://jurnal.uglaceh.ac.id/index.php/jpal/article/view/8PENYULUHAN PELESTARIAN LINGKUNGAN BERBASIS KEARIFAN LOKALDI KAMPUNG BARUACEH TENGGARA2026-10-28T06:47:38+00:00Jetno Harjajetnoharja@gmail.comMichel Kasafjetnoharja@gmail.comTaufikjetnoharja@gmail.comKhairil Sandrajetnoharja@gmail.comZikri Keruasjetnoharja@gmail.comAgus Salimjetnoharja@gmail.com<p>Kearifan lokal merupakan pengetahuan, nilai, dan praktik budaya yang berkembang dalam masyarakat secara turun-temurun serta berperan dalam pemanfaatan dan pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan. Di Kabupaten Aceh Tenggara, kearifan lokal masyarakat memiliki keterkaitan erat dengan upaya pelestarian lingkungan, khususnya kawasan Gunung Leuser, perlindungan sumber mata air, dan pengelolaan lahan di wilayah lereng gunung. Pengetahuan mengenai pentingnya menjaga lingkungan diwariskan melalui nasihat, keteladanan, dan kebiasaan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Praktik tersebut antara lain diwujudkan melalui upaya menjaga sumber mata air untuk kebutuhan rumah tangga dan irigasi, menghindari penebangan pohon secara sembarangan, serta mempertahankan fungsi ekologis kawasan hutan. Namun, pemanfaatan lereng Gunung Leuser sebagai lahan pertanian berpotensi menimbulkan tekanan terhadap lingkungan dan meningkatkan risiko kerusakan tanah apabila tidak dikelola secara tepat. Peristiwa tanah longsor yang pernah terjadi di Aceh Tenggara menunjukkan pentingnya keseimbangan antara aktivitas manusia dan kondisi alam. Dalam konteks ini, kearifan lokal dapat menjadi salah satu pendekatan untuk meningkatkan kesadaran ekologis, mendorong perilaku masyarakat yang bertanggung jawab, serta mendukung upaya mitigasi bencana. Oleh karena itu, penggalian dan penguatan kearifan lokal masyarakat Kutacane dan sekitarnya perlu dilakukan sebagai bagian dari strategi pelestarian lingkungan dan pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan.</p>2026-11-04T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Jurnal Pengabdian Leuserhttps://jurnal.uglaceh.ac.id/index.php/jpal/article/view/7PENYULUHAN PERAN SERTA MASYARAKAT DALAM MENJAGA KELESTARIAN SUNGAI ALAS DI KECAMATAN LAWE SUMUR ACEH TENGGARA2026-10-28T01:35:22+00:00Khairul Anwarkhairulanwar@gmail.comTaufiktaufik@gmail.comJetno Harjataufik@gmail.com Puspa Nirwana Patwataufik@gmail.comSyahri Amrikhairulanwar@gmail.comDenny Heriansyahkhairulanwar@gmail.com<p>Sungai Alas merupakan salah satu sumber daya alam yang memiliki peran penting bagi kehidupan masyarakat di Kabupaten Aceh Tenggara. Sungai ini membelah kawasan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) dan dimanfaatkan oleh masyarakat untuk memenuhi berbagai kebutuhan sehari-hari, seperti mandi dan mencuci. Namun, pertambahan jumlah penduduk dan meningkatnya aktivitas permukiman di sekitar aliran Sungai Alas berpotensi menimbulkan permasalahan lingkungan, terutama terkait kelestarian ekosistem dan kualitas air sungai. Salah satu faktor yang dapat menyebabkan penurunan kualitas air adalah pembuangan sampah ke sungai serta aktivitas masyarakat yang tidak memperhatikan kelestarian lingkungan. Oleh karena itu, diperlukan upaya peningkatan kesadaran dan partisipasi masyarakat dalam menjaga kebersihan serta kelestarian Sungai Alas. Program penyuluhan yang dilaksanakan oleh Program Studi Teknik Sipil Universitas Gunung Leuser diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan dan kepedulian masyarakat terhadap pentingnya menjaga kebersihan sungai, mencegah pencemaran, dan memanfaatkan sumber daya air secara bertanggung jawab. Melalui kegiatan ini, masyarakat diharapkan mampu menerapkan perilaku yang lebih ramah lingkungan sehingga kelestarian Sungai Alas dapat terjaga dan daya dukung lingkungan bagi kehidupan masyarakat tetap berkelanjutan.</p>2026-11-06T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Jurnal Pengabdian Leuserhttps://jurnal.uglaceh.ac.id/index.php/jpal/article/view/6BAKTI SOSIAL AKSI PENANGULANGAN BENCANA BANJIR KECAMATAN SEMADAM KUTACANEACEH TENGGARA2026-10-28T01:12:51+00:00Harun HarasidHarunharasid@gmail.comTaufikHarunharasid@gmail.comKhairul AnwarHarunharasid@gmail.comRanda RazkindaHarunharasid@gmail.comAdiara BasukiHarunharasid@gmail.comZaini ArpanHarunharasid@gmail.com<p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Bencana banjir bandang yang melanda Kecamatan Semadam, Kabupaten Aceh Tenggara, menyebabkan kerusakan infrastruktur dan mengganggu aktivitas masyarakat, termasuk terputusnya akses jalan nasional pada ruas Jembatan Semadam–Lawe Beringin Gayo. Bencana tersebut berdampak terhadap mobilitas penduduk, distribusi kebutuhan pokok, serta aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat setempat. Banjir merupakan bencana hidrometeorologi yang dapat dipengaruhi oleh curah hujan tinggi, kondisi lingkungan, serta aktivitas manusia yang mengakibatkan berkurangnya daya serap tanah dan terganggunya aliran sungai. Dalam situasi tersebut, aksi bakti sosial menjadi salah satu bentuk kepedulian dan partisipasi masyarakat dalam membantu warga terdampak bencana. Kegiatan bakti sosial dalam penanggulangan bencana banjir bertujuan untuk meringankan beban masyarakat terdampak, menumbuhkan solidaritas sosial, serta mendukung pemenuhan kebutuhan dasar selama masa tanggap darurat dan pemulihan. Pelaksanaan kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat semangat gotong royong, meningkatkan kepedulian terhadap sesama, dan mendorong partisipasi berbagai pihak dalam penanganan dampak bencana. Dengan demikian, aksi bakti sosial tidak hanya menjadi bentuk bantuan kemanusiaan, tetapi juga merupakan wujud nyata tanggung jawab sosial dalam membangun ketahanan masyarakat terhadap bencana.</p>2026-11-04T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Jurnal Pengabdian Leuser